Rabu, 14 April 2010

Purnama Tak Bersinar

Wahai bidadari cantik…………,
Kau lipat aq dalam garis senyum dibibirmu
Mematahkan sebagian tulang-tulang rusukq
Diantara degupan jantungku yang berbahasa pilu

Ku lemparkan senyuman termanisku, untuk meyakinkan rembulan,
Kalaulah pungguk lagi merindu
Bersama asam pekat keringatku, aku manari diatas awan-awan hitam itu

Tak mampu............, mentari pun tak mampu bermain mata
Rindu hanya sebatas keluh bekicot diatas batu hitam nan memar
Sakti puisi hanya sebatas mantra tanpa bunga tujuh rupa,
nyemprat-nyemprit dikolong purnama tak bersinar.

Lupakan, ..... lupakan mimpi itu dan cucilah najisnya pertapaanmu
Karean telah jauh lembayung meninggalkanq
Untuk hanya menyanyikan sebuah lagu sahdu
Namun bermakna palsu

Mata Bening Itu Milikku

Mengembalikan lagi wajahmu dengan gelas kaca itu
Yang dulu kulukis dengan darah kentalq
Diantara suing-suing mata panah membakar jiwaq
Meronta , meleleh ibarat muaian rel kereta tua tak bertalu

Kau dihadirkan dengan titik panas didahiq
Mengalir bak sungai deras tak berderu
Karena hati tercoreng kotoran nafsu

Ku bertandu pada alam, yang berhenti bertasbih karena debu
Ku ber manja pada angin yang mengelus sampai akhir q lelap di atas cerukan lesung pipimu,
Tersentak dan jatuh, kau tak berbaju....
Membuatq malu tuk terus menyapamu........
Hanya karena sebuah rindu....

Terus kau beri aq madu
Padahal tumpukan jamur putih itu tak ubahnya empedu
Yang tumbuh, bertahta, bernyawa, dan kau bawa ke bulan madumu,
Lepaskan aq, alirkan sungaiq, tutupi mata bening itu........