Ternyata cantik dan kaya tidak selamanya bisa membuat kita untuk selalu
tersenyum. Ini sebuah kisah nyata, seorang sahabat akrabq sebut saja dia
melati, karena memang wajahnya seanggun bunga melati *waduh mulai deh
gombalnya….*.
Melati lumayan cantik, bahkan karena anugrah kecantikan yang Allah
berikan itu tidak sedikit lelaki yang menjadi pemujanya, termasuk saya*
pemuja rahasia maksudq*.
Selain cantik, manis, anggun, molek, menawan, melati juga terlahir dari
keluarga cukup berada. Ayahnya menjadi pengusaha sukses ternama di
sebuah kota dimana dia tinggal. Oleh sebab itu tidak heran jika gaya
hidup melati terlihat sedikit berbeda dengan teman-teman sebayanya. Dan
memang mamahnya sangat memanjakan si putri sulungnya tersebut, apapun yg
menjadi kehendak atau permintaannya hampir semua dipenuhi atau
dikabulkan oleh mamahnya walaupun kadang sering berselisih pendapat
dengan ayahnya, karena ayahnya tidak ingin terlalu memanjakan putrinya
tersebut dengan alasan agar melati juga sedikit berfikir akan butuhnya
sebuah kerja keras untuk mencapai sebuah kesuksesan. Namun mamanya
berpendapat lain, melati harus dipenuhi segala kebutuhannya agar melati
tidak lagi berfikir yang lain dan hanya fokus untuk belajar.
Kedua alasan diatas memang sangat mendasar dan cukup memiliki alasan
masing-masing yang juga sama kuat dan juga logis. Namun apa disangka,
dan siapa mengira? Kemewahan yang diberikan ternyata tidak cukup membuat
melati berfikir untuk benar-benar belajar bahkan yang terjadi adalah
sebaliknya.
Kemewahan membuat melati menjadi lupa daratan. Kecantikan raut wajah
serta kemolekan postur tubuh serta keanggunan senyumnya digunakan untuk
mengelabui para pujangga yang sedang kesepian. Sehingga tak sedikit
lelaki yang menangis kecewa dan putus asa akan cinta dibuatnya. Manisnya
kata-kata, serta tajamnya rayuan seakan-akan mampu memperdaya makhluk
tak bernyawa sekalipun.
Uniknya melati sendiri tidak pernah merasakan kebahagiaan akan nikmat
kecantikan dan kemewahan yang Allah berikan tersebut. Setiap kali saya
baca status serta catatan di facebooknya selalu saja bernada melo dan
sangat mengenaskan. Bahkan disetiap aku bertemu dengannya, tidak jarang
dia selalu berada dalam sebuah tekanan, tentunya tekanan dalam berbagai
alasan, karena ketahuan selingkuh lah, karena diputus pacar yg
kesembilan lah*waduh kesembilah? Ini pasangan atau ayat sich, bahaya
tuch cewek*. Yang jelas kehidupannya tersiksa banget dech, Seakan-akan
kehidupannya lebih parah mengenaskan dibandingkan para tukang penarik
becak di pertigaan kampus kami itu. Bagaimana tidak para penarik becak
tersebut walaupun belum tentu nanti pulang membawa uang tetapi masih
sempat-sempatnya mereka tertawa, bercanda dan saling berbagi cerita
keceriaan diantara sesama senasibnya. Subhanallah......... atas kuasamu
tuhan semua itu terjadi. Ternyata kekayaan dan juga kemewahan sangatlah
tidak menjamin kehidupan kita untuk bener-bener bahagia. Dan hanya
sukurlah yang menjadi pondasi utama untuk kita selalu bisa tersenyum
dalam keadaan apapaun, dan hanya dengan mengingat-NYA lah hati setiap
manusia akan terasa tenang...........Allahua’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar