Jumat, 24 Desember 2010

Bukan Sebuah Jaminan

Ternyata cantik dan kaya tidak selamanya bisa membuat kita untuk selalu tersenyum. Ini sebuah kisah nyata, seorang sahabat akrabq sebut saja dia melati, karena memang wajahnya seanggun bunga melati *waduh mulai deh gombalnya….*.

Melati lumayan cantik, bahkan karena anugrah kecantikan yang Allah berikan itu tidak sedikit lelaki yang menjadi pemujanya, termasuk saya* pemuja rahasia maksudq*.

Selain cantik, manis, anggun, molek, menawan, melati juga terlahir dari keluarga cukup berada. Ayahnya menjadi pengusaha sukses ternama di sebuah kota dimana dia tinggal. Oleh sebab itu tidak heran jika gaya hidup melati terlihat sedikit berbeda dengan teman-teman sebayanya. Dan memang mamahnya sangat memanjakan si putri sulungnya tersebut, apapun yg menjadi kehendak atau permintaannya hampir semua dipenuhi atau dikabulkan oleh mamahnya walaupun kadang sering berselisih pendapat dengan ayahnya, karena ayahnya tidak ingin terlalu memanjakan putrinya tersebut dengan alasan agar melati juga sedikit berfikir akan butuhnya sebuah kerja keras untuk mencapai sebuah kesuksesan. Namun mamanya berpendapat lain, melati harus dipenuhi segala kebutuhannya agar melati tidak lagi berfikir yang lain dan hanya fokus untuk belajar.

Kedua alasan diatas memang sangat mendasar dan cukup memiliki alasan masing-masing yang juga sama kuat dan juga logis. Namun apa disangka, dan siapa mengira? Kemewahan yang diberikan ternyata tidak cukup membuat melati berfikir untuk benar-benar belajar bahkan yang terjadi adalah sebaliknya.
Kemewahan membuat melati menjadi lupa daratan. Kecantikan raut wajah serta kemolekan postur tubuh serta keanggunan senyumnya digunakan untuk mengelabui para pujangga yang sedang kesepian. Sehingga tak sedikit lelaki yang menangis kecewa dan putus asa akan cinta dibuatnya. Manisnya kata-kata, serta tajamnya rayuan seakan-akan mampu memperdaya makhluk tak bernyawa sekalipun.

Uniknya melati sendiri tidak pernah merasakan kebahagiaan akan nikmat kecantikan dan kemewahan yang Allah berikan tersebut. Setiap kali saya baca status serta catatan di facebooknya selalu saja bernada melo dan sangat mengenaskan. Bahkan disetiap aku bertemu dengannya, tidak jarang dia selalu berada dalam sebuah tekanan, tentunya tekanan dalam berbagai alasan, karena ketahuan selingkuh lah, karena diputus pacar yg kesembilan lah*waduh kesembilah? Ini pasangan atau ayat sich, bahaya tuch cewek*. Yang jelas kehidupannya tersiksa banget dech, Seakan-akan kehidupannya lebih parah mengenaskan dibandingkan para tukang penarik becak di pertigaan kampus kami itu. Bagaimana tidak para penarik becak tersebut walaupun belum tentu nanti pulang membawa uang tetapi masih sempat-sempatnya mereka tertawa, bercanda dan saling berbagi cerita keceriaan diantara sesama senasibnya. Subhanallah......... atas kuasamu tuhan semua itu terjadi. Ternyata kekayaan dan juga kemewahan sangatlah tidak menjamin kehidupan kita untuk bener-bener bahagia. Dan hanya sukurlah yang menjadi pondasi utama untuk kita selalu bisa tersenyum dalam keadaan apapaun, dan hanya dengan mengingat-NYA lah hati setiap manusia akan terasa tenang...........Allahua’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar