Jumat, 24 Desember 2010

Pemuja Rahasiamu

Pagi ini aq akan melukis tentang wajahmu dengan kabut senja itu, mencoba untuk kembali meraba kecantikan dibalik remang-remang lewat jendela kamarq. Diantara basah rumput oleh tetesan embun pagi. Bersama dengan merdunya kicau burung yang sedang bernyanyi. Sahdu.......... itulah hasil dari lukisan wajahmu untuk kali ini, yang sering membuatq rindu untuk selalu melihat senyuman manismu, yang juga sering membuatq pilu karena dirimu sulit untuk bisa mengerti aq.
Suatu anugrah terindah di pagi yang mendung ini, langit memang masih tertutup awan hitam, mentari memang masih enggan bersinar, namun cerita akan kita dapat merubah suasana. Bayangmu yang selalu hadir disetiap pagiq membuatq tak lagi kesepian walau dalam kesendirian.
Gadis......., betatapun aq menjadi pengagummu namun aq tak ingin rasa ini ternodai oleh perasaan hati yang tak seharusnya. Sengaja kuberpaling dan jauh pergi dari tatapanmu karena aq juga tak ingin menodai kesucian hatimu, diriku juga tak ingin menjadikan putih jilbabmu menjadi tak bermakna karena rasa ini, rasa yang sebenarnya datang dengan sendirinya. biarlah kujaga perasan ini, biarlah kupendam cinta ini, biarlah diriq puas dengan hanya menjadi pemuja rahasiamu, bukan karena aq tak mampu untuk memilikimu, namun karena diriku masih belum mampu untuk menjadikanmu halal bagiq. Ibarat melati yang dapat kucium semerbak aromanya, ibarat mawar yang dapat ku sunting kelopak indahnya, ibarat anggrek yang dapat kupetik dan qbawa pulang bunganya.
Gadis......., biarlah kutitipkan rasa ini kepada-NYA, kepada dzat yang menciptakan kita semua, yang menciptakan kita dengan berpasang-pasangan, yang maha tau akan rasa dan perasaan setiap manusia. Yang maha kasih, maha sayang, juga maha adil terhadap hambanya. Diriq percaya kecantikanmu yang selama ini kukagumi adalah milik-NYA, sopan serta santun sikapmu adalah karunia terindah-NYA, lembut hatimu adalah semata-mata atas izin dan kuasa-NYA. Juga hadirmu di dunia ini adalah kehendak-NYA. Jadi tak pantas kiranya jika ku mengagumi serta memujamu dengan harus melupakan maha penciptamu.
Gadis......., biarlah kubersimpuh memuja kecantikanmu pada-NYA, biarlah kubersujud kepada-NYA atas pengharapan yang terbaik dan dapat bahagia hidup berdampingan denganmu sampai disurga. Biarlah kuserahkan semua rasa ini pada-NYA. Semoga rasa ini selalu mendapat ridho-NYA. Ada kalanya kita akan bersama di sebuah istana cinta nan megah dengan dihiasi sejuta kenangan dan impian akan kebahagiaan atas izin dari-NYA.

Bukan Sebuah Jaminan

Ternyata cantik dan kaya tidak selamanya bisa membuat kita untuk selalu tersenyum. Ini sebuah kisah nyata, seorang sahabat akrabq sebut saja dia melati, karena memang wajahnya seanggun bunga melati *waduh mulai deh gombalnya….*.

Melati lumayan cantik, bahkan karena anugrah kecantikan yang Allah berikan itu tidak sedikit lelaki yang menjadi pemujanya, termasuk saya* pemuja rahasia maksudq*.

Selain cantik, manis, anggun, molek, menawan, melati juga terlahir dari keluarga cukup berada. Ayahnya menjadi pengusaha sukses ternama di sebuah kota dimana dia tinggal. Oleh sebab itu tidak heran jika gaya hidup melati terlihat sedikit berbeda dengan teman-teman sebayanya. Dan memang mamahnya sangat memanjakan si putri sulungnya tersebut, apapun yg menjadi kehendak atau permintaannya hampir semua dipenuhi atau dikabulkan oleh mamahnya walaupun kadang sering berselisih pendapat dengan ayahnya, karena ayahnya tidak ingin terlalu memanjakan putrinya tersebut dengan alasan agar melati juga sedikit berfikir akan butuhnya sebuah kerja keras untuk mencapai sebuah kesuksesan. Namun mamanya berpendapat lain, melati harus dipenuhi segala kebutuhannya agar melati tidak lagi berfikir yang lain dan hanya fokus untuk belajar.

Kedua alasan diatas memang sangat mendasar dan cukup memiliki alasan masing-masing yang juga sama kuat dan juga logis. Namun apa disangka, dan siapa mengira? Kemewahan yang diberikan ternyata tidak cukup membuat melati berfikir untuk benar-benar belajar bahkan yang terjadi adalah sebaliknya.
Kemewahan membuat melati menjadi lupa daratan. Kecantikan raut wajah serta kemolekan postur tubuh serta keanggunan senyumnya digunakan untuk mengelabui para pujangga yang sedang kesepian. Sehingga tak sedikit lelaki yang menangis kecewa dan putus asa akan cinta dibuatnya. Manisnya kata-kata, serta tajamnya rayuan seakan-akan mampu memperdaya makhluk tak bernyawa sekalipun.

Uniknya melati sendiri tidak pernah merasakan kebahagiaan akan nikmat kecantikan dan kemewahan yang Allah berikan tersebut. Setiap kali saya baca status serta catatan di facebooknya selalu saja bernada melo dan sangat mengenaskan. Bahkan disetiap aku bertemu dengannya, tidak jarang dia selalu berada dalam sebuah tekanan, tentunya tekanan dalam berbagai alasan, karena ketahuan selingkuh lah, karena diputus pacar yg kesembilan lah*waduh kesembilah? Ini pasangan atau ayat sich, bahaya tuch cewek*. Yang jelas kehidupannya tersiksa banget dech, Seakan-akan kehidupannya lebih parah mengenaskan dibandingkan para tukang penarik becak di pertigaan kampus kami itu. Bagaimana tidak para penarik becak tersebut walaupun belum tentu nanti pulang membawa uang tetapi masih sempat-sempatnya mereka tertawa, bercanda dan saling berbagi cerita keceriaan diantara sesama senasibnya. Subhanallah......... atas kuasamu tuhan semua itu terjadi. Ternyata kekayaan dan juga kemewahan sangatlah tidak menjamin kehidupan kita untuk bener-bener bahagia. Dan hanya sukurlah yang menjadi pondasi utama untuk kita selalu bisa tersenyum dalam keadaan apapaun, dan hanya dengan mengingat-NYA lah hati setiap manusia akan terasa tenang...........Allahua’lam.

Penantian Panjangku

Seandainya ada yg datang untuk menemani sepi malamku, akan kujadikan dia permaisuri dalam hatiq dalam hidup dan juga matiku bahkan sampai kekal abadi disurga bersama beribu bidadari itu………
Bersamanya akan kusulam rindu menjadi lagu sahdu yang mengiringi setiap derap langkah kakiq bersamamu diatas permadani merah itu…….
Kulantunkan sair-sair cinta berbait sayang bernada kesetiaan untuknya dalam sebuah hanyutan derasnya alirah sungai nil dan gemericik bebatuan kecil disebuah emperan tanah kadas itu……

Kusirami benih rasa ini dengan beningnya air telaga biru yang menjadi satu dengan sucinya hatiq untuk menjadikanmu sesuatu yang halal bagiq…….
Cantiknya parasmu, putihnya kulitmu, manisnya senyummu, juga tajamnya pandangan matamu membuat aq harus tertunduk malu, ibarat remang merah senja itu…….. sebuah lukisan murni atas kuasa-NYA.

Namun…………..
Ibarat bunga layu……. Itulah perasaanq, disaat ku masih harus menunggumu, tanpa tahu akan bayanganmu.
Kucoba melukis wajahmu dengan awan itu, namun hujan menjadikannya rintik sehingga kutaklagi dapat mengenalmu……..
Kucoba melukis dengan hujan itu, namun mentari hadir, menjadikan semua sirna tanpa bekas sedikitpun…….
Kucoba melukis dengan sinar mentari itu, namun malam menjemputku, sehingga kutaklagi dapat melihatmu......
Kucoba melukis dengan gelap malam itu, namun senyuman rembulan bersama kelap-kelip bintang menjadikan malam menjadi terang………
Wahai awan, hujan, mentari, rembulan bahkan engkau bintang, kenapa engkau menjadi penghalang akan tulus cintaq kepadanya…….

Taukah engkau atas perasaanku…..?
Pahamkah engkau akan kesunyian hatiku…..?
Mampukah engkau membendung nafsuku.....?
Kenapa engkau biarkan air mata kesendirian ini menetes.....?
Haruskah engkau biarkan hati ini menangis...?
Jangankan diriq, adampun tak mampu ..........

Ya rabb ..... kepada-MU kutitipkan rasa ini, kepada-MU kuserahkan hati ini, dan kepada-MU pula kuberserah diri, semoga hanya dengan kasih dan sayang serta kuasa-MU yang akan mempertemukanku dengannya........ karena diriku tau, semua adalah ciptaan-MU dan berada dalam genggaman kuasa-MU, maka tiada yg sulit bagi-MU, kecuali tanpa kehendak-MU, siapapun tak kan pernah mampu.
Memang diriku tak pantas dengan kesempurnaan ciptaan-MU dikarenakan diriq juga tak sempurna, namun apalah salahq jika qberharap sesuatu yg sempurna dari-MU agar menjadi pelengkap dalam kesempurnaan imanq kepada-MU.

Hamba Takut Ya Allah

tidak seperti biasanya, pagi ini memang spesial dalam hidupq, semua bermula dari tempat tinggalq yang baru. hidup semakin membaik, ada sedikit cahaya terang yg menjanjikan akan menjadi penunjuk jalan akan kesuksesan dan kebermanfaatan dalam hidup ini.
yang mulanya langit adalah atap rumahq dan bumi sebagai lantanyai *lirik lagu sang rhoma* dan tas dipundakq adalah almariq, kini semua itu berubah atas kisah keajaiban dunia ke 9 yg terjadi dalam hidupq. kini Allah sedang memanjakanq dengan kemewahan, walau kemewahan yg tak seberapa mewah bagi mereka yg terbiasa mewah, namun bagiq sudah merupakan keajaiban yg sangat luar biasa. suatu mimpi yg menjadi kenyataan. Alhamdulilah ya Allah.
Ya Allah, semua adalah kuasa-MU, keajaiban akan besarnya kasih sayang-MU terhadap hamba, yang mungkin merupakan ujian bagi hamba untuk mensukuri nikmat yg hamba terima. Ya Allah, hamba takut atas kemewahan ini, hamba tak terbiasa Ya Allah, hamba takut lupa akan ajalq yg akan datang kapanpun dan dimanapun hamba berada, hamba takut lidah ini tak lagi beristigfar kepadamu, hamba takut Ya Allah kemewah ini menjadi penghalang untuk hamba bisa menikmati surga-MU, hamba Takut dibalik senyum dipagi ini akan berbuah tangis disore nanti Ya Allah, hamba takut terangnya sinar mentari pagi ini menjadikan redup cahaya rembulan dimalam nanti, hamba takut manisnya madu ini akan tercampur dengan pekatnya empedu yang pahit itu, hamba takut Ya Allah................
Ya Allah........ jadikanlah kemewahn hidup yg hamba raskan saat ini menjadi modal untuk lebih istiqomahnya hamba beribadah kepada-MU, jadikan kasur dan guling yg menemani tidur hamba sebagai penyenyak istirahat hamba sehingga hamba bisa bangun di sepertiga malam hamba untuk bermunajat dan beristigfar kepadamu ya rabb, jadikan komputer serta internet ini sebagai sarana untuk hamba beribadah menuntut ilmu-MU ya Rabb,jadikan kelengkapan makanan hamba menjadi tenaga serta kesehatan jasmani serta rohani hamba untuk lebih meningkatkan ketakwaan hamba, jadikan semua yg hamba miliki sekarang sebagai penunjang untuk hamba lebih dekat dengan-MU ya rabb, jangan pernah engkau keringkan air mata ini untuk selalu memohon ampunan-MU ya rabb.
ya Allah, ya rahman ya rahim, ampunilah dosaq serta dosa kedua orang tuaq, kasihanilah beliau seperti beliau mengasihaniq sewaktu hamba masih kecil. ya Allah berikanlah yg terbaik untuk dunia dan akhirat kami menurut-MU ya rabb, karena hanya engkaulah yg maha mengetahui atas segala apa yg tidak kami ketahui, tiada daya dan kekutan kecuali atas izin dan kehendakmu ya rabb, pertemukanlah hamba dengan pasangan hidup hamba yang bisa menemani hamba menuju surga-MU ya Rabb. amin ya rabbal alamin.

Kesunyianku

Lembut, merayap, menyerinai di sekujur tubuh ini
Seakan aku harus mendekap karena hawa dinginmu
Gemeriak geladak kapal membuatku harus menutup telingaku
Dengan asupan nada kemesraan yang dimainkan oleh dentingan gelombak dilautan

Surga, jika memang aroma angin pantai malam ini mengelusku
Hingga aku tertidur pulas.

Wahai angin malam…………..
Engkau bawa diri ini dalam semilirmu
Karena bagiku engkau adalah sahara
Yang akan memberi kedamaian
dalam desahan kegelisahan akan kehidupanku

diriku dekap erat dipelukan…..
diriku tatap tanpa lepas dalam pandangan
yang kian jauh merayap
hingga menembus ujung kota disebrang sana

namun tak seonggah jawabanpun melintas di tempurung otakku
disaat burung gagak menghantuiku dengan beribu pertanyaan surga
melainkan hanya diam dan membisu
diantara bahasa ombak dilautan
diantara bahasa binatang dipadang rembulan
yang dihiasi dengan gemerlap bintang
diantara awan putih bak salju di musim es.

Menagih Jawaban Angin

Sunyi di antara beberapa suara yang sesekali terdengar ....
Bingung bukan sebuah solusi ........untukku bisa berlari
Tapi sebuah arti ..... Karena diriku belum mengerti.

Kucoba berlari ...................
Mengejar bayanganmu tanpa pasti........
Diantara tusukan embun malam yang merasuk kedalam jiwaku
Sehingga membuatku harus berselimut malu

Kuterus bertanya ....................
Menagih jawaban angin dalam lamunan
Untuk menghapus ketidak pahamanku akan diriku sendiri

Namun jawaban terlalu jauh berdiri
Dari atas pijakan kaki ini
Dan tak akan pernah bisa kembali
Tuk sekedar berbisik hanya untuk mengatakan
Tolol” kepadaku.

Tangisan Otakku

Matamu berbinar
Megiris setiap isapan jantungku saat ini
Diantara paku beton yang menancap di bahu hatiku

Jilbabmu mengurai
Menutupi mata hatiku
Diantara desingan mantra para normal yang mencoba membaca nasib mujurku

Wahai angin yang mengayun kicauan anak burung
Hantarkan mimpiku pada putaran kipas angin itu
Hingga menjulur jauh
Menembus lapisan langit yang ketujuh
Bersama imaji dosenku
Yang selalu mengamini tangisan otakku

Kecantikan Surga Abadi

Malam ini aku akan kembali berkeluh kesah tentang wanita yang selama ini selalu menjadi bunga tidurku. Entahlah, sebenarnya dia tidak terlalu istimewa bahkan sedikitpun diriku tak berharap dia menjadi milikku. Namun perkenalanku dengannya membuat hatiku selalu berbicara lain. Fikiranku selalu bertolak belakang dengan perasaanku. Tingkah lakuku semakin tak dapat ku arahkan, ibarat bala tentara yang tak lagi patuh pada komando sang raja. Selalu berlaga dengan hanya mengharap simpati kanda. Sungguh luar biasa. Tubuh ini bukan lagi satu, tapi gabungan antara dia dan aku antara benci dan cinta, benci karena tubuh ini tak pantas untuk dirinya yang suci.
Wahai sang dewi, lepaskan panahan yang kau bidik dengan tatapan bulat matamu, yang kau tarik dengan lekukan lesung pipimu, dengan busur lentik bulu matamu. Agar tepat menancap di lubuk hatiku, dan akupun mati tanpa harus membayangkan manis senyummu yang tak mungkin menjadi hidangan pagiku.
Wahai sang dewi, lemparkan jaring yang kau ayun dengan jilbab hitammu, yang engkau rajut dengan kekuatan imanmu, dengan benang keikhlasan takbirmu. Agar aku tak dapat lagi berlari, pergi untuk menghampirimu, untuk menyentuh rambutmu yang tak mungkin menjadi belaian disetiap malamku.
Wahai sang dewi, dua kali telah kau buat diri ini terkapar dalam kesaktianmu, kesaktian yang kau peroleh dari ketulusan dan keindahan budi pekertimu. Yang telah menjadi maha guru dalam hidupku. Untuk mengubur kesombongan yang mungkin belum lulus dalan ujian nasionalku jika tak terbantu oleh perjuangan guru SMAku.
Wahai sang dewi, tegarnya hatimu memang sempat membuat hati ini bulat, tidak seperti buah jambu yang sering kau lukis dalam buku harianku. Sebulat batu karang yang berdiri kokoh ditepi lautan, menghadang ratusan bahkan ribuan terpaan ombak dalam perhitungan dewa.
Wahai sang dewi, lembut tanganmu telah membuat tangan ku terkepal, mengeluarkan segala otot-otot yang menjadi teriakan akan keinginan dalam sebuah perubahan. Perubahn untuk menjadi pemenang walau bukan dalam sebuah laga pertandingan memperebutkan piala adipati.
Wahai sang dewi, manja sifatmu kadang membuat keringatku enggan untuk terus bertahan dalam tubuhku, pertapaan yang selama ini menjadi kebanggaannya ternyata tak mampu menjadikan kepompong berubah menjadi kupu-kupu.
Wahai sang dewi, aku tau kalau semua ini adalah susunan kata-kata yang tak mungkin membuatmu paham akan rasaku, tetapi setidaknya diriku telah mengeluarkan racun tubuhku yang mampu membuatku lumpuh dalam kebisuanku.
Biarkan cagar angin menitipkan tulisan ini pada awan, sehingga awan mengantarkanya dengan hujan, dan telaga menyampaikannya ke lautan. Agar pantai, karang nelayan, dan kapal juga ikan bertasbih mendoakan perasaan ini untuk menjadi kasturi di pagi hari, yang dapat engkau hirup aromanya, yang dapat engakau nikmati indah panoramanya, sehingga embunpun mengamini kecantikanmu adalah kecantikan sorga yang abadi.

Ujian ataukah Jawaban

“Jangan berhenti membaca tajwid hatiq, seperti engkau mengukir indah nada suaramu ketika membaca ayat-ayat indah-NYA. Jangan berubah sedikitpun dan berusaha menghakimi pertemuan kita, anggaplah aq seperti sebuah kurma manis yang akan kau nikmati tepat pada waktunya seperti saat puasamu berakhir dipenghujung senja. Sungguh Allah tidak akan terpejam sedikitpun, ia akan menyaksikan bagaimana kita menjalani cinta tanpa harus saling menorehkan dosa, menjanjikan neraka, menghancurkan keimanan, seperti layaknya pasangan kasih yang melupakan-NYA. Wahai kasih yang terlewatkan….. , sungguh bodohnya insan ini, yang tak sempat melihat tulusnya hatimu…., wahai cinta yang terbengkalai, malam ini dan selanjutnya akan ada pada-NYA kutitipkan lantunan doa untukmu yang sempat ku ukir di dalam sujudku. Semoga kebahagiaan selalu berpihak kepada kita mas……“

Begitulah kabar angin yang q dapat sebagai jawaban darinya, dari sebuah tulisan yang katanya indah baginya namun bagiq hanyalah sebuah luapan rasa yang tak mungkin kupendam selamanya. Dari sebuah alunan nada cinta yang terkirim dari getaran jiwanya. Seakan menjelaskan akan indahnya kepakan sayap burung merpati di angkasa sana. Membuat hatiq terbang bebas mengaluni seantero jagat raya ini, terbuai oleh semilir angin yang kencang berhembus sehingga tanpa kusadari diriq telah berada diatas sebuah samudra luas yang tak dapat memberikanq sebuah tempat untuk berlabuh. Menjadikanku bermuara pada kebingunan, akankah ini jawaban ataukah ujian dalam cintaq.....
Wahai cinta...... dirimu indah, seindah warna pelangi disaat hujan telah pergi.
Wahai cinta...... dirimu agung, seagung maha pencipta sebuah rasa yang abadi.
Wahai cinta...... dirimu anugrah disetiap makhluk ciptaannya yang bernyawa.
Mampukah diri ini menjaga perasaan yang tidak semestinya kurasakan, yang tak seharusnya menjadi hiasan di dalam hatiq. Hiasan rasa rindu untuk ingin selalu menatapmu, yang akan membuat nada irama jantungq semakin berpacu.
Gadis ....... akan kujaga rasa ini, seperti diriq menjaga putih gelas kaca itu.
Gadis........ tak akan habis kata ini untuk selalu memujamu, menjadikanmu tersenyum manis seperti waktu pertama bertemu dulu.
Gadis...... ku berharap diriku akan selalu bersamamu walau hanya dalam angan dan mimpi itu.

Rabu, 14 April 2010

Purnama Tak Bersinar

Wahai bidadari cantik…………,
Kau lipat aq dalam garis senyum dibibirmu
Mematahkan sebagian tulang-tulang rusukq
Diantara degupan jantungku yang berbahasa pilu

Ku lemparkan senyuman termanisku, untuk meyakinkan rembulan,
Kalaulah pungguk lagi merindu
Bersama asam pekat keringatku, aku manari diatas awan-awan hitam itu

Tak mampu............, mentari pun tak mampu bermain mata
Rindu hanya sebatas keluh bekicot diatas batu hitam nan memar
Sakti puisi hanya sebatas mantra tanpa bunga tujuh rupa,
nyemprat-nyemprit dikolong purnama tak bersinar.

Lupakan, ..... lupakan mimpi itu dan cucilah najisnya pertapaanmu
Karean telah jauh lembayung meninggalkanq
Untuk hanya menyanyikan sebuah lagu sahdu
Namun bermakna palsu

Mata Bening Itu Milikku

Mengembalikan lagi wajahmu dengan gelas kaca itu
Yang dulu kulukis dengan darah kentalq
Diantara suing-suing mata panah membakar jiwaq
Meronta , meleleh ibarat muaian rel kereta tua tak bertalu

Kau dihadirkan dengan titik panas didahiq
Mengalir bak sungai deras tak berderu
Karena hati tercoreng kotoran nafsu

Ku bertandu pada alam, yang berhenti bertasbih karena debu
Ku ber manja pada angin yang mengelus sampai akhir q lelap di atas cerukan lesung pipimu,
Tersentak dan jatuh, kau tak berbaju....
Membuatq malu tuk terus menyapamu........
Hanya karena sebuah rindu....

Terus kau beri aq madu
Padahal tumpukan jamur putih itu tak ubahnya empedu
Yang tumbuh, bertahta, bernyawa, dan kau bawa ke bulan madumu,
Lepaskan aq, alirkan sungaiq, tutupi mata bening itu........